Sebanyak 128 item atau buku ditemukan

Etnis Cina Perantauan di Aceh

Hubungan antara Indonesia, khususnya Aceh dengan Dataran Cina dimulai semenjak lancarnya transportasi laut. Kontak budaya antara Cina dan Aceh secara diplomasi diawali pada abad 13 dan 15 M. Pada suatu lawatan utusan diplomat Cina pergi ke Aceh menyerahkan Lonceng Cakradonya kepada Raja Aceh pada tahun 1409 M, sebagai lambang persahabatan. Sebaliknya Raja Aceh mengirimkan utusan Aceh (Duta Besar) ke Cina yaitu Zainal Abidin Dan khususya pada Musim dingin tahun ke 1413 berlayarlah utusan Cina ke Samudra termasuk ke Aceh. Hubungan diplomasi dibarengi dengan hubungan bisnis yang saling menguntungkan sehingga kedua bangsa tersebut terjalin atas dasar saling menghargai. Selanjutnya setelah terjadi kekacauan politik dan ekonomi di Daratan Cina, sehingga mengakibatkan migrasi besar-besaran orang Tiongkok ke Nanyang (Asia Tenggara), sehingga masyarakat Cina terpaksa mengadu nasibnya di Nusantara dengan bekerja apa saja asal dapat mempertahankan hidupnya di perantauan. Bekerja tanpa kenal lelah membuat etnis Cina perantauan berhasil dalam bidang ekonomi, politik dan budaya. Fenomena tersebut terlihat etnis Cina dipandang oleh Belanda sebagai kelas menengah bersama Timur Asing lainnya. Di bidang politik etnis Cina dapat menyatukan dirinya dengan pemerintah setempat seraya mempertahankan edentitas kecinaan mereka. Sedangkan identitas Cina sebelum dan setelah kemerdekaan Indonesia mempnyai identitas ganda yaitu identitas Indonesia dan Cina. Pada masa revolusi kebudayaan di Cina pada tahun 1966 terjadi perubahan besar-besaran di Cina dan berpengaruh terhadap Cina di Indonesia. Karena waktu itu etnis Cina dianggap berhaluan komunis. Sedangkan komunis adalah sangat dibenci di Indonesia. Akhirnya pudarlah kebudayaan Cina termasuk di Aceh. Etnis Cina di Aceh pada peristiwa komunis mereka sebagian hijrah ke Medan Sumatra Utara dan pulang ke daratan Cina. Dan yang lainnya menetap di Aceh. Etnis Cina di Aceh mayoritas suku Khek, dan berbahasa Khek bersama etnis mereka. Sedangkan bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa kedua. Dan sebagian dari mereka dapat berbahasa Aceh bila bermitra bisnis dengan orang Aceh. Etnis Cina yang tinggal di tempat pecinaan sangat sedikit yang dapat berbahasa Aceh. ​

Umpamanya setiap tanggal 15 dari tiap bulan tahun Imlek adalah bulan
purnama. Realitas tersebut sangat membantu para petani atau nelayan untuk
melihat situasi untuk bercocok tanam atau pergi ke laut. Demikian juga Tahun
Baru Imlek ...

Pengamalan al-Qur'an tentang pemberdayaan dhu'afa

Economic empowerment of poor people in Bojong Indah Village according to Islam; collection of articles.

Economic empowerment of poor people in Bojong Indah Village according to Islam; collection of articles.

Nama Islami nan Indah Untuk Anak Anda

Islam mengajarkan bahwa nama memiliki hubungan erat dengan doa, harapan, dan nasib seseorang. Bahkan, disebutkan dalam hadis, nama merupakan panggilan yang akan dilekatkan kepadanya di akhirat kelak.

Effendi: nama ini secara harfiah berarti “tuan”. Emin: sebuah nama Turki yang
mempunyai arti yang sama dengan arti nama Amin dalam bahasa Arab ini
secara harfiah berarti “yang dipercaya”. Enver: sebuah nama Turki yang
mempunyai arti ...

Perkembangan Hukum Perdata Dalam Dimensi Sejarah Dan Politik Hukum Di Indonesia

Historical and political aspects of Indonesian civil law and its progress.

Pada waktu itu eksistensi pengadilan adat tetap dipertahankan melalui pasal
144 dan pasal 145 Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat 1949-
Namun dibawah Undang-Undang Dasar Sementara 1950, pengadilan adat tidak
lagi diakui eksistensinya. Dengan Undang-Undang Nomor 90 Tahun 1950
tentang Mahkamah Agung dan Undang-Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1950
tentang Tindakan-tindakan Untuk Menyelenggarakan Susun-an, Kekuasaan dan
Acara ...

Sejarah Peradaban Aceh

Suatu Analisis Interaksionis, Integrasi dan Konflik

Buku ini mencoba menggali asal-usul suku bangsa Aceh yang diawali dari pencarian asal-usul kata Aceh itu sendiri, keragaman suku bangsa Aceh yang unik, hubungan sosial, ekonomi, budaya dan juga politiknya dengan bangsa India, Timur Tengah, Cina maupun Arab, sehingga terjadilah suku bangsa Aceh seperti yang sekarang ini, yang berbeda dengan suku bangsa lainnya dalam susunan suku bangsa Indonesia pada umumnya. Penulis mengulas fenomena perubahan social dan budaya di dalam masyarakat Aceh yang antara lain disebabkan perkawinan antar suku bangsa di luar suku bangsa Aceh yang beragam, juga adanya pengaruh politik pemerintah pusat apalagi dengan terbentuknya DOM (Daerah Operasi Militer) untuk mencegah lebih banyak pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh dewasa ini. Konflik politik sengaja tidak begitu ditonjolkan karena analisis lebih difokuskan pada fenomena sejarah, abtropologi dan social suku bangsa Aceh.

Aceh tidak lagi segan-segan mengidentikkan mereka sebagai wilayah
peradaban Islam di Indonesia. Fenomena di lapangan saat ini, bukan saja
wanita Aceh yang memakai kerudung bila ke luar rumah, akan tetapi polisi
wanita yang bertugas di Aceh pun juga sudah memakai jilbab. Feneomena
tersebut merupakan awal dari bangkitnya peradaban Islam di Indonesia, yaitu di
Aceh. Demikian halnya para pekerja seni, misalnya, saat ini sedang
menggalakkan kesenian daerah baik ...

Konsepsi pembangunan djiwa Islam

djiwa, negara dan kebudajaan Islam

Demikian terlukislah keadaan kuasa besar dimasa itu dipegang oleh Qurra', jaitu
achli2 hafis Qur'an jang beriman ! Lingkungan pengetahuan kaum Muslimin
dimasa itu, barulah dalam urusan Agama dan hidup. Terhadap Qur'an dalam ...

Pembangunan djiwa-negara dan kebudajaan Islam

kultuur, politis dan sociologis

Demikian terlukislah keadaan kuasa besar dimasa itu dipegang oleh Qurra', jaitu
acfili2 hafis Our'an jang beriman ! Lingkungan pengetahuan kaum Muslimin
dimasa itu, barulah dalam utusan Agama dan hidup. Terhadap Qur'an dalam ...